Banyak Pilihan Jika Berkunjung ke Tambora

MATARAM – Berbagai pilihan geosite ini menjadikan kunjungan ke Geopark Tambora tidak akan membosankan dan pengunjung akan pulang dengan oleh-oleh berupa ilmu dan wawasan baru.

Geopark Tambora di Pulau Sumbawa merupakan satu wujud pembangunan berkelanjutan untuk melindungi situs geologi dan keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan masyarakat.

Geopark merupakan program UNESCO yang terbukti berhasil di banyak negara melalui pembangunan secara holistik dengan melibatkan partisipasi masyarakat di sekitar kawasan sehingga tercapai pembangunan yang berkelanjutan, baik secara lingkungan maupun kebudayaan.

Menurut  General Manager Geopark Tambora Ridwan Syah, yang menarik dari kunjungan ke Geopark Tambora dan membedakannya dengan Geopark Rinjani adalah dominasi pemandangan padang savanna yang sangat indah di sepanjang jalan utama mengelilingi geosite-geosite Geopark Tambora. Angin kering yang berhembus dari benua Australia menyebabkan padang savana ini memiliki rumput berwarna kekuningan dan menjadikan ciri khas kawasan ini.

”Berbagai pilihan geosite dan view yang menarik dari padang savana menjadikan kunjungan ke Geopark Tambora tidak akan membosankan,” kata Ridwan Syah, Jum’at 4 Oktober 2019 pagi. Bahkan pengunjung akan pulang dengan oleh-oleh berupa ilmu dan wawasan baru..

Berkunjung ke Geopark Tambora merupakan wujud kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan untuk melindungi situs geologi dan keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan masyarakat sekitar.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Taman Nasional Tambora Deny Rahardi yang semula memegang jabatan Pengendali Eko Sistem Hutan di sana menjelaskan bahwa Tambora dengan bentang lahan yang sangat luas memiliki keragaman jenis tumbuhan yang cukup tinggi. Dimana sebaran tumbuhan tersebut tersebar kedalam tiga tipe ekosistem hutan mulai dari hutan musim, hutan hujan tropis dan hutan savana.

Kondisi tutupan vegetasi yang rapat membentuk ekosistem yang mantap membuat kawasan Taman Nasional Tambora memiliki peran strategis sebagai sistem penyangga kehidupan untuk menjamin keberlangsungan fungsi ekologi pada kawasan tersebut.

Kawasan Taman Nasional Tambora umumnya ditumbuhi oleh berbagai jenis klasifikasi tumbuhan seperti herba (Lepidagathis eucephala, Achyranthes bidentata, Colocasia gigantea, Dichrocephala chrysanthemifoliadan lain-lain), liana (Ichnocarpus frutescens, Melodinus orientalis, Anodendron paniculatum, Parameria laevigata, Calamus javensis, Aristolochia tagala, Dregea volubilis), perdu (Anomianthus dulcis, Uvaria concava, Anaphalis javanica, Anaphalis viscida, Bidens pilosa, Blumea sylvatica) dan berbagai jenis pohon antara lain : Pato (Buchanania sessifolia), Tula (Alstonia spectabilis), Pulai/Litak (Alstonia schollaris), Loa/Ketimus (Protium javanicum), Katipu (Gossampinus malabarica), Johar (Cassia siamea), Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana), Ketapang (Terminalia catappa)dan lain-lain. Tumbuhan dari berbagai habitus tersebut berasosiasi membentuk ekosistem hutan Taman Nasional Tambora yang mantap dan klimak.

Selain potensi tumbuhan kawasan Taman Nasional Tambora juga merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa mulai dari klas primata seperti Kera abu-abu (Macaca fasicularis), klas reptil seperti Biawak biasa (Varanus salvator), Kadal pohon, Ular piton (Phiton raticulatus), klas mamalia seperti Rusa timor (Cervus timoriensis), Babi (Sus sp.), dan berbagai klas aves/burung seperti Kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea),Nuri pipi merah (Geofroyyus geofroyyi), Kipasan flores (Rhipidura diluta), Gosong kaki merah (Megapodius reinwardt), Isap madu topi sisik (Lichmera lombokia), Caladi tilik (Dendrocopos mollucensis), Paok la’us (Pitta elegans), Ayam hutan (Gallus gallus), Cikukua tanduk (Philemon buceroides), Kacamata wallace  (Zoosterops wallace), Punglor kepala hitam (Zoothera dohertyi), Sepah kerdil (Pericrocotus lansbergei) dan lain-lain.

Jenis burung yang telah teridentifikasi pada tahun 2012 sebanyak 43 jenis dimana beberapa jenis diantaranya merupakan jenis dilindungi dan satu jenis burung endemik Nusa Tenggara Barat. Tahun 2015 atas kerjasama Balai Taman Nasional Tambora dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dilaksanakan kegiatan eksplorasi flora dan fauna Taman Nasional Tambora. Dari hasil kegiatan tersebut, diketahui jenis burung yang berhasil teridentifikasi sebanyak 70 jenis dengan indek keragaman jenis terkategori sedang (H = 2,567).

Karekteristik bentang lahan yang umumnya berupa areal pegunungan dengan tutupan vegetasi rapat memiliki kelerengan sedang sampai curam serta adanya peninggalan sejarah akibat letusan yang terjadi pada tahun 1815, maka objek daya tarik wisata alam yang dapat dikembangkan di kawasan Gunung Tambora sebagai berikut :

Wisata Alam. Kawasan Gunung Tambora memiliki bentang lahan yang cukup luas, dimana memiliki potensi wisata alam yang cukup menarik antara lain :

Kaldera. Gunung Tambora merupakan salah satu dari tiga gunung api aktif selain Gunung Rinjani dan Gunung Sangiang. Gunung Tambora terbentuk awalnya pada 200 juta tahun yang lalu dimana gunung ini hanya berupa aliran lava kawah pusat yang membentuk gunung api perisai dengan ketinggian + 1.800 mdpl (di atas perrmukaan laut) dengan volume 200 meter kubik. Karena adanya aktifitas lava kawah pusat tersebut pada tahun 1815 ketinggian Gunung Tambora mencapai 4.300 mdpl dengan volume material mencapai 650 kilometer kubik.

Pada fase ini gunung Tambora lebih bersifat eksplosif, menghasilkan material lepas diselingi aliran lava yang mengalir kearah lereng timur-tenggara, selatan dan barat daya. Kemudian pada bulan April Tahun 1815 terjadi letusan yang sangat dahsyat (parosisma) disertai pembentukan kaldera, menghasilkan material berupa jatuhan dan aliran piroklastik dengan  volume sekitar 650 kilo meter kubik yang  menutupi hampir seluruh gunung api, termasuk tiga kesultanan yaitu kesultanan Tambora, Pekat dan Sanggar yang terletak di sekitar lereng Gunung Api Tambora.

Kaldera dengan garis tengah mencapai tujuh kilometer dengan kedalaman kurang lebih satu kilometer. Pada dasar kawahnya telah muncul gunung api baru yang diberi nama Doro Api Toi  yang merupakan pusat kegiataan Gunung Api Tambora saat ini.

Kaldera Gunung Tambora merupakan kaldera gunung api yang tergolong salah satu kaldera terbesar di dunia. Untuk menuju kaldera atau puncak Gunung Tambora dapat melalui empat pintu masuk yaitu jalur pendakian Piong (Kore),  jalur pendakian Kawindato’i di Kabupaten Bima atau dapat melalui jalur pendakian Doro Ncanga dan jalur pendakian Pancasila di Kabupaten Dompu. Jalur Pancasila ini menarik diminati pendaki.

Kepala Sub Bag Tata Usaha Taman Nasional Tambora Deny Rahardi menyebutkan jalur pendakian dari Desa Pancasila yang menarik disebabkan telah tersedianya penginapan dan pemandu pendakian serta kesiapan masyarakatnya. Tidak seperti di Kawinda Toi, Piong dan Doro Ncanga. ”Dari Desa Pancasila ini, bsa mencapai puncak tertinggi Tambora 2.851 mdpl,” ujarnya.

Untuk jalur pendakian ini dan juga dari Kawinda Toi, diperlukan waktu minimal tiga hari dua malam. Sedangkan dari Doro Ncanga bisa menggunakan kendaraan bermotor (off road) dari pintu masuk hingga Pos 3 yang waktu tempuhnya 2,5 sampai tiga jam, jika berangkat pagi bisa pulang pada malam harinya.

Kaldera Tambora saat ini menjadi objek wisata menarik khususnya bagi wisatawan yang senang berpetualang. Kegiatan yang dapat dilakukan di kaldera tersebut antara lain foto hunting, pengamatan aktivitas gunung api baru Doro api toi pada dasar kawah dan lain-lain.

Jungle Tracking. Menjelajah hutan merupakan salah satu bentuk wisata berbasis alam. Kegiatan menjelajah hutan atau sering dikenal dengan nama jungle tracking dapat dilakukan di kawasan Gunung Tambora.

Kegiatan ini didukung kondisi tutupan vegetasi yang masih cukup rapat dengan kondisi sekitar jalur penjelajahan yang cukup sejuk dan nyaman. Kegiatan jungle tracking tersebut dapat dilakukan pada empat pintu  pendakian yaitu Piong (Kore), Kawindato’i, Doro Ncanga dan Pancasila.

Masing-masing jalur penjelajahan memiliki keunikan, kelebihan dan tantangan tersendiri yang mampu memenuhi kebutuhan akan rekreasi dan wisata alam. Sepanjang jalan pengunjung dapat menikmati keindahan formasi hutan yang masih rapat dan memiliki keragaman jenis yang tinggi.

Pada lokasi tertentu, pengunjung dapat menjumpai pohon dengan ukuran raksasa menjulang tinggi antara lain jenis kalanggo (Duabanga molucana), Soka (Ardisia diversifolia), Sambi (Schleichera oleosa), Kelicung/Huja Api(Diospyros maritima),Rida(Alstonia spectabilis), Jambu hutan/Monggo merah(Syzigium polyanthum), dan jenis tumbuhan lainnya yang mencapai 277 jenis/spesies yang teridentifikasi tahun 2013.

Pada ketinggian 2.000 mdpl pengunjung akan menemukan komunitas pohon cemara gunung (Casuarina junghuhniana) pada hamparan yang cukup luas. Sepanjang perjalanan pengunjung juga dapat melakukan aktifitas foto hunting, pengamatan satwa (Animal Wacthing) seperti kera abu (Macaca fascicularis), Rusa Timor (Cervus timorensis) atau melakukan pengamatan burung (Bird Wacthing) karena kawasan Gunung Tambora merupakan habitat berbagai jenis burung seperti kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), Nuri Pipi Merah (Geofroyyus geofroyyi), Kipasan Flores (Rhipidura diluta), Gosong Kaki Merah (Megapodius reinwardt), Isap Madu Topi Sisik (Lichmera lombokia), Caladi tilik (Dendrocopos mollucensis), Paok la’us (Pitta elegans), Ayam Hutan (Gallus gallus), Cikukua Tanduk (Philemon buseroides), Kacamata Wallace (Zoosterops Wallace), Punglor Kepala Hitam (Zoothera dohertyi), Sepah Kerdil (Pericrocotus lansbergei), Elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster) dan jenis burung lainnya.

Wisata Tirta. Kawasan Gunung Tambora memiliki tutupan vegetasi yang cukup rapat dan merupakan daerah tangkapan air bagi daerah sekitarnya. Karena merupakan daerah tangkapan air maka di kawasan Gunung Tambora terdapat beberapa alur sungai salah satunya adalah sungai Oi Marai yang ada di Desa Kawinda Toi.

Sungai ini memiliki air yang sangat jernih dan di aliri air sepanjang tahun dengan debit yang cukup besar. Potensi debit sungai yang cukup besar tersebut saat ini dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) atau mikrohidro dengan daya 20.000 MW yang saat ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik Desa Kawindato’i.

Keberadaan sungai tersebut dapat dikembangkan sebagai objek wisata antara lain wisata jelajah sungai, lokasi bird watching, bermain kano, river tubing, foto hunting dan lain-lain.

Wisata Minat Khusus. Kondisi kawasan dengan potensi alam yang sangat memungkinkan untuk dikembangkan sebagai objek daya tarik wisata membuat kawasan Taman Nasional Tambora memiliki peluang pengembangan pariwisata yang sangat menjanjikan dan sesuai fungsi pokok kawasan yang dapat dikembangkan untuk kepetingan wisata alam dan jasa lingkungan lainnya.

Oleh karena itu, dalam rangka optimalisasi fungsi pokok kawasan supaya bisa termanfaatkan secara maksimal baik dari aspek ekologi, ekonomi dan sosial budaya khususnya terkait pengembangan wisata maka kawasan Taman Nasional Tambora harus dikelola secara bijaksana dengan mengacu pada sistem tata kelola hutan yang baik.

Potensi daya tarik wisata di kawasan Taman Nasional Tambora cukup beragam termasuk untuk pengembangan wisata minat khusus seperti panjat tebing, paralayang, offroad, jungle tracking dan lain-lain yang memacu adrenalin pengunjung.

Wisata Ilmiah. Selain wisata alam, wisata alam dan wisata minat khusus, kawasan Taman Nasional Tambora juga bisa dikembangkan sebagai pusat wisata ilmiah seperti interpretasi jenis tumbuhan dan atau satwa yang ada di kawasan Tambora.

Pengembangan wisata ilmiah dapat dilakukan melalui kegiatan penelitian dan pengembangan, pengenalan jenis tumbuhan dan satwa liar yang ada, pengembangan laboratorium alam, pengembangan demplot atau kebun koleksi tumbuhan dan lain-lain.

Pengembangan wisata minat khusus tersebut sangat memungkinkan karena selain memiliki kondisi alam yang mendukung kawasan Taman Nasional Tambora juga memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar yang sangat tinggi.

Kepala Balai Taman Nasional Tambora Murlan menjelaskan bahwa rencannya bulan November 2019 mendatang akan dilakukan kegiatan Sapu Jagat bekerja sama dengan Komunitas TrashBag.  ”Sekaligus dilakukan kampanye pengendalian sampah,” ujarnya pertengahan September 2019 lalu.

—–

Untuk menuju Taman Nasional Tambora dapat diakses melalui beberapa rute perjalanan sebagai berikut :

Rute Perjalanan Darat dan Laut dari Mataram melalui Pelabuhan Kayangan (Lombok Timur) menggunakan kendaraan darat roda dua atau roda empat dengan jarak tempuh sekitar 80 kilometer membutuhkan waktu 120 menit.

Pelabuhan Kayangan (Lombok Timur) – Pelabuhan Poto Tano (Sumbawa) menggunakan penyeberangan kapal feri dengan waktu tempuh 150 menit.

Dari Pelabuhan Poto Tano (Sumbawa Barat) – Dompu (Cabang Banggo) menggunakan kendaraan darat roda dua atau roda empat dengan jarak tempuh sekitar 200 kilometer membutuhkan waktu tempuh sekitar enam jam.

Dompu (Cabang Banggo) – Kawasan Taman Nasional Tambora menggunakan kendaraan darat roda dua atau roda empat dengan jarak tempuh 60 – 80 kilometer membutuhkan waktu tempuh 2 – 4 jam.

Jika perjalanan menggunakan pesawat udara,  dari Lombok Internasional Airport (Praya) – Bandara Sultan Salahuddin (Bima) menggunakan pesawat tipe ATR dengan waktu tempuh 30 – 40 menit.

Selanjutnya melakukan perjalanan darat dari Bandara Sultan Salahuddin (Bima) – Dompu (Cabang Banggo) mengunakan kendaraan roda dua atau roda empat dengan jarak tempuh 40 kilometer membutuhkan waktu tempuh 1,5 – 2 jam. Dompu (Cabang Banggo) – Kawasan Taman Nasional Tambora menggunakan kendaraan darat roda dua atau roda empat dengan jarak tempuh 60 – 80 kilometer membutuhkan waktu tempuh 2 – 4 jam.(*/1)

 

Close Menu