Pariwisata Indonesia Peringkat 40 Dari 140 Negara

JAKARTA – Indeks Daya Saing Pariwisata Indonesia yang diranking oleh lembaga dunia, World Economic Forum (WEF) dalam Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) 2019 beranjak naik. Kini berada di posisi 40 dari 140 negara yang dikalibrasi dengan global standar.

Sedangkan negara jiran seperti Singapura yang dinilai paling maju di kawasan ASEAN, turun 5 peringkat, dari peringkat 12 ke 17 dunia. Malaysia, yang dikenal sebagai ‘musuh bebuyutan’ Indonesia, juga turun 3 peringkat, dari peringkat 26 ke 29. Thailand naik 3 tingkat, dari peringkat 34 ke 31. Sedangkan Vietnam naik 4 peringkat, dari peringkat 67 ke 63.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengemukakannya sewwaktu berbicara pada pembukaan rapat kerja nasional Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Kamis 17 Oktober 2019. ”Saya mendorong semua anggota GIPI untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia, ” katanya, melalui keterangan pers yang diberikan Pelaksana Tugas Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata Guntur Sakti.

Diharapkan menggunakan kriteria yang berlaku di dunia seperti TTCI (Travel and Tourism Competitiveness Index) yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF).

Sebagai bentuk sinergi Pentahelix, para industri untuk berpartisipasi meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia dengan memberikan dukungan dan berpartisipasi dalam upaya-upaya strategi perbaikan pariwisata Indonesia sesuai dengan pilar-pilar TTCI, khususnya pada Top Bottom 3, yaitu Environmental Sustainability, Health and Hygiene, dan Tourist Service Infrastructure.

Menurutnya, sebaiknya, industri pariwisata dikoordinasikan oleh GIPI, karena GIPI sangat mudah untuk lintas kementerian dan lintas sektor. Namun tantangan terbesarnya adalah environmental sustainable development, karena GIPI lebih cair. ”Sehingga bisa tidak membuat antar kementerian berhadap-hadapan,” ujarnya.

Ketua GIPI Didien Junaedy mengatakan GIPI sebagai mitra pemerintah siap mendukung program dalam meningkatkan kunjungan wisman ke Indonesia pada tahun mendatang. “Peran industri pariwisata berada di garis terdepan dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata Indonesia,” katanya.

Rakernas II GIPI Tahun 2019 antara lain untuk melakukan evaluasi pelaksanaan program kerja GIPI dan kinerja kepengurusan serta menyusun program kerja untuk tahun berikutnya, dan melaporkan posisi keuangan GIPI. Selain itu untuk menampung pendapat dan usulan serta masukan dari anggota GIPI maupun DPD–DPD dan memperjelas koordinasi industri dengan Kementerian Pariwisata serta Kementerian/Lembaga terkait lainnya.

GIPI merupakan organisasi mandiri bersifat nirlaba, melaksanakan fungsinya sebagai mitra kerja pemerintah dan pemerintah daerah, serta menjadi wadah komunikasi dan konsultasi para anggota dalam penyenggaraan pembangunan kepariwisataan.(*/1)

Close Menu