Tenunan NTB Menuju Moslem Fashion Industry

MATARAM – Sore itu, Sabtu 2 Nopember 2019, di halaman selatan Islamic Center Nusa Tenggara Barat di Mataram, puluhan perempuan muda memperagakan gaun-gaun muslimah berbahan tenunan lokal. Mereka mengenakan karya 20 orang disainer muda dan 20 orang pengrajin busana tamatan SMK yang selesai mengikuti pelatihan yang diberikan oleh disainer Wignyo Rahadi bersama teman-temanya dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas).

Didukung oleh desainer mitra Bank Indonesia (BI) Wignyo Rahadi menghadirkan parade koleksi busana muslim bertema “Tropical Vibes” dengan menggunakan tenun Pringgasela. Koleksi ini terinspirasi dari keindahan warna alami pulau tropis dipadukan secara harmonis dengan warna alami tenun Pringgasela, seperti coklat muda, coklat tua, hijau, dan lime green yang dituangkan dalam desain berupa longdress, outer, blouse, dan celana panjang.

Ada pula disainer senior asal Mataram Linda Hamidy Grander,  alumni Fashion Institute of Design & Merchandising (FIDM) San Fransisco, California, USA 2001. Dalam perhelatan “NTB Goes to Moslem Fashion Industry” ini, Linda Hamidy Grander menampilkan koleksi busana tenun bertajuk “Life in Black and White” yang menggambarkan kemewahan dalam kesederhanaan hidup.

Linda terinspirasi dengan kesederhanaan warna hitam putih, namun begitu mewah dan kuat mampu menggugah emosi.  Koleksi ini menunjukan bahwa kain tradisional pun dapat menjadi pakaian yang terlihat mewah dan berkelas internasional. Dengan sentuhan modernisasi yang tinggi, yaitu dengan mengambil siluet  klasik bercampur dengan esensi keberanian mencampur motif, terciptalah pakaian – pakaian yang unik dan kuat. Mixing pattern atau pencampuran berbagai macam motif dan tekstur menjadi ciri khas koleksi ini. Daya tarik kain Pringgasela Lombok Timur dan Sukarare Lombok Tengah menjadi pilihan utama karya Linda dengan menggunakan kombinasi bahan-bahan polos dan bermotif.

Kegiatan sore itu adalah bagian dari langkah pembuka dari upaya pengembangan Moslem Fashion Industry. Ini berawal dari kegelisahan mengingat NTB sebagai provinsi yang ditetapkan sebagai destinasi wisata prioritas atau Bali Baru memiliki produk unggulan dibidang tekstil dan roduk tekstil yang layak untuk dikembangkan. Yaitu kain tenun. beraneka ragam jenis dan motif ain tenun khas. ” Untuk dimaklumi, sejak empat tahun terakhir ini, BI NTB membina berbagai UMKM se NTB agar dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank ndonesia NTB Achris Sarwani.

Mempertimbangkan juga bahwa NTB mendapatkan penghargaan ebagai World’s Best Halal Tourism Destination dan World’s Best Halal Honeymoon Destination serta konsumsi belanja busana muslim di Indonesia tahun 2017 mencapai US $ 20 miliar.

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka NTB memiliki kesempatan besar menjadi pelaku utama industri fesyen khususnya moslem fashion karena selain didukung ketersediaan bahan baku namun juga didukung dengan ketersediaan konsumen potensial yaitu jumlah penduduk yang mayoritas muslim dengan kehidupan religius.

Tren dunia fesyen merupakan salah satu tren yang paling diminati di dunia, perkembangan dunia fesyen sangat cepat dan dinamis layaknya dunia informasi dan teknologi. Berbagai macam mode dan gaya busana mulai dari generasi tua maupun generasi muda dan dari kalangan papan atas sampai menengah ke bawah menjadi daya tarik dan magnet tersendiri.

Selama ini para pengrajin kain tradisional menghasilkan produksi berupa kain lembaran atau sarung yang hasil produksinya langsung dijual kepada konsumen, baik digunakan untuk acara adat atau dibeli oleh turis untuk cinderamata. Sedangkan seiring dengan perkembangan dunia mode yang berkembang cepat dan gerakan cinta produk lokal gencar di kampanyekan sehingga kebutuhan busana siap pakai atau yang biasa disebut dengan Ready To Wear (RTW) semakin hari semakin meningkat

Salah seorang penenun asal Pringgasela Idayanti, 33 tahun, dari kelompok Inges binaan BI NTB, mengatakan ada 100 penenun – dibagi lima kelompok – yang telah empat tahun terakhir ini dibina untuk meningkatkan kwalitas produk dan memasarkannya. Idayanti yang sejak Sekolah Dasar sudah mulai belajar menenun, mengatakan setiap anak perempuan di kampungnya akrab dengan alat tenun. ”Dulu, anak perempuan mengisi waktu Menyesek (menenun). Sambil menunggu jodoh,” ujarnya seraya tersenyum.

Maka tidak mengherankan jika motifnya ada yang disebut Sari Menanti. Berupa garis-garis lurus. Juga ada motif Sundawa yang berupa gambaran aliran sungai Sungai Sundawa di kampungnya yang mengalir dari Gunung Rinjani untuk keperluan irigasi sawah penduduk. Sungai Sundawa ini kelanjutan dari aliran air sungai Menjerit dan Seleman (menyelam) di daerah sebelum Pringgasela.

Ada pula motif Bayan yang digunakan untuk mandi pengantin dan motif Pucuk Rebung yang merupakan gambar anak bambu di bagian pinggirnya, merupakan kain sarung digunakan untuk salat Jum’at.

Idayanti mengisahkan nenek moyangnya yang memulai menenun setelah waktunya menunggu panenan tanaman sawah dan kebunnya. ”Dulu menggunakan kapas dan akar kayu sebagai bahan benang dan pewarnanya,” ucapnya mengulang kisah yang diperoleh dari neneknya Papuk Rebang yang sudah meninggal setelah berusia 100an tahun.

Untuk menghasilkan selembar kain tenun, semula ia memerlukan waktu sebulan. Tetapi setelah menggunakan alat tenun bukan mesin, jika rajin menenunnya maka bisa diselesaikan dalam waktu dua minggu. Sekarang pun menenun kain selebar 90 senti dan panjannya hingga empat meter yang harganya selembar bervariasi mulai dari Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu.

Menurutnya, sebelum terjadinya Bom Bali, Pringgasela didatangi oleh pengusaha asal Jepang yang memborong semua produk tenunan di kampungnya. Mereka menyukai tenunan berwarna Tarum Indigo (biru) untuk bahan baju. ”Sebelum terjadinya Bom Bali, kain tenunan di Pringgasela laris manis,” ujarnya mengulang kata neneknya. Kini, setelah dibina BI NTB, mereka menjualnya melalui media sosial secara online.

Ketua Dekranas Daerah NTB Niken Saptarini Widyawati pun mengatakan Moslem Fashion Industry ini langkah pertama menjadi industri busana. ”Kain tenunan NTB yang berkwalitas harganya ada yang mencapai Rp1,5 juta,” ucapnya.

Linda Hamidy Grander mengakui semula kesulitan mendapatkan tenunan yang berkwalitas dan cepat luntur. ”Sekarang ini sudah tidak sulit lagi. Pengrajin sangat semangat,” katanya.

Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalilah sewaktu membuka kegiatan peragaan busa muslim itu meyakini keberhasilannya. ”Asal mau kerja keras bisa tercapai,” katanya mengingatkan para disainer dan pengrajin busaNa muda yang baru menjalani pelatihan tersebut.(*/1)

Close Menu